Kamis, 27 Agustus 2026
Hot

Pendidikan Indonesia-Singapura Perbarui MoU dan Akses Pembelajaran

Indonesia dan Singapura perkuat kolaborasi pendidikan, bahas pemanfaatan AI, pembaruan MoU, serta perluasan akses pembelajaran saat pertemuan bilateral. Mendikdasmen Abdul Mu'ti dan Menteri Desmond Lee terlibat.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS – Indonesia dan Singapura memperkuat kolaborasi pendidikan berorientasi masa depan, fokus pemanfaatan AI, pembaruan MoU, serta perluasan akses pembelajaran.

Pertemuan bilateral ini terjadi antara Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dan Menteri Pendidikan Singapura, Desmond Lee. Diskusi berlangsung di sela-sela 14th ASEAN Education Ministers Meeting (ASED) di Singapura.

Pertemuan pada Rabu (22/7) lalu menghasilkan kesepahaman penguatan kolaborasi pendidikan kedua negara. Ini mencakup pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dan pembaruan Nota Kesepahaman (MoU) bidang pendidikan.

Abdul Mu’ti menyoroti tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 50 juta peserta didik. Banyak dari mereka berdomisili di wilayah pelosok yang memerlukan akses pendidikan berkualitas.

Article ad in the middle of article

Pemerintah mendorong pembelajaran jarak jauh yang fleksibel melalui teknologi, sejalan kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini bertujuan memperluas akses dan mengurangi kesenjangan layanan pendidikan antardaerah.

“Kita bisa menggunakan teknologi untuk memiliki akses ke internet, kita bisa menggunakan teknologi termasuk AI, sebagai bagian dari strategi untuk menghilangkan kesenjangan antara pelajar yang tinggal di kota di Indonesia, dan pelajar yang tinggal di pelosok negeri,” ujar Menteri Mu’ti.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan penggunaan AI harus diimbangi penguatan kemampuan berpikir reflektif dan kritis siswa. Ia menceritakan pengalaman AI yang tidak mampu menyiapkan presentasi berbahasa Jawa.

Pengalaman tersebut menunjukkan keterbatasan AI dalam memahami budaya atau konteks lokal. Menteri Mu’ti menilai AI membantu narasi, namun kurang dalam berpikir reflektif dan kritis.

“Kadang-kadang, AI bisa membantu mereka, untuk memiliki narasi atau deskripsi, tetapi, jika berpikir refleksif, dan berpikir kritis, itu tidak banyak,” tegasnya.

Desmond Lee menginisiasi pembaruan MoU kerja sama pendidikan yang terakhir disepakati 2017. Ia menyatakan perkembangan teknologi dan AI menuntut respons kerja sama adaptif berorientasi masa depan.

Pembaruan ini penting menjelang 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Singapura pada 2027. Menteri Lee menyoroti perubahan signifikan sejak MoU terakhir disepakati.

“Sejak 2017, banyak yang telah berubah. Teknologi, AI, fokus kita terhadap masalah di seluruh dunia, sehingga secara domestik, kita mengambil peluang, memperbaiki MoU-nya, menyesuaikan, dan membuatnya berorientasi ke masa depan, untuk kolaborasi Indonesia-Singapura,” kata Desmond Lee.

Menteri Mu’ti menyambut baik pembaruan MoU sebagai langkah strategis memperkuat kemitraan. Ia membuka peluang kolaborasi dengan Temasek dan perusahaan Singapura guna meningkatkan kualitas pendidikan di Sumatra.

Kedua menteri juga mendiskusikan keberlanjutan Sekolah Indonesia Singapura (SIS), yang masa penggunaan lokasinya berakhir April 2027. Peningkatan kompetensi tenaga pendidik serta pekerja migran Indonesia agar semakin profesional juga turut dibahas.

Pertemuan bilateral berlangsung hangat, ditandai pertukaran apresiasi angklung, Batik Megamendung, dan durian. Ini mencerminkan eratnya hubungan kedua negara yang terus diperkuat melalui kerja sama pendidikan.

Article ad after last paragraph