Findy Alfiansyah Penulis | Ridwan Habibie Editor
HARIANEXPRESS, TANGERANG – Universitas Multimedia Nusantara (UMN) meluncurkan enam buku karya akademisi melalui kegiatan Peluncuran Buku dan Diskusi Penulisan: From the Manuscript to the Bookshelf, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Divisi Riset, Inovasi, dan Keberlanjutan (RIS) UMN ini menjadi ruang apresiasi terhadap karya akademik sekaligus forum berbagi pengalaman mengenai proses mengembangkan gagasan menjadi buku yang dapat diakses masyarakat.
Acara yang berlangsung di Borneo D20 tersebut menghadirkan akademisi, penulis, mahasiswa, dan sivitas akademika UMN. Melalui tema From the Manuscript to the Bookshelf, kegiatan ini mengangkat perjalanan panjang sebuah karya intelektual, mulai dari ide awal, proses penelitian, penyusunan manuskrip, hingga tahap publikasi.
Buku yang lahir dari proses akademik tidak hanya menjadi dokumentasi penelitian, tetapi juga menjadi sarana penyebaran pengetahuan kepada masyarakat luas.
Dalam kegiatan tersebut, UMN memperkenalkan enam buku dengan tema yang beragam, mulai dari komunikasi politik, penelitian komunikasi, bahasa Indonesia jurnalistik, manajemen kesehatan, komunikasi sosial, hingga kajian semiotika media digital.
Berikut adalah enam buku karya akademisi yang diluncurkan dalam kegiatan tersebut:
- Human Capital Rumah Sakit Berkelanjutan oleh Dr. Mikaria Gultom, S.Pd., M.M. dan Dr. Hendro Budiyanto, S.Pd., M.M.
- Tinjauan Literatur dalam Penelitian Komunikasi oleh Prof. Dr. Billy K. Sarwono, M.A. dan Dr. Agustinus Rusdianto Berto, S.Sos., M.Si.
- Sunggi Bahasa: Bahasa Indonesia Jurnalistik Berbasis U-Tapix, Aplikasi Akal Imitasi Penapis Kesalahan Ejaan oleh Dr. Dra. Niknik Mediyawati, S.Pd., M.Hum., Samiaji Bintang Nusantara, S.T., M.A., Marlinda Vasty Overbeek, S.Kom., M.Kom., Moeljono Widjaja, B.Sc., M.Sc., Ph.D., dan Rudi Sutomo, S.Kom., M.Si., M.Kom.
- Narasi Historis dan Mitologis dalam Arsitektur Komunikasi Politik oleh Dr. Lestari Nurhajati, S.Sos., M.Si.
- Membaca Zaman Melalui Komunikasi oleh Dr. Arsa Widitiarsa Utoyo, S.T., M.Sn.
- Semiotika Media Baru: Menenun Makna di Era Digital oleh Dr. Drs. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si.
Selain peluncuran buku, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi bertajuk From the Manuscript to the Bookshelf. Forum tersebut membahas berbagai tahapan dalam proses penulisan buku, mulai dari menemukan ide, melakukan riset, menyusun argumentasi, hingga menghasilkan karya yang memiliki jangkauan pembaca lebih luas.
Diskusi tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti mengenai pentingnya mengembangkan budaya menulis sebagai bagian dari aktivitas akademik.
Salah satu pembicara, Dr. Drs. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si., penulis buku Semiotika Media Baru: Menenun Makna di Era Digital, membahas tantangan komunikasi di era media sosial, khususnya terkait batas antara kritik, kebebasan berekspresi, dan etika komunikasi.
Menurut Indiwan, kritik tetap menjadi bagian penting dalam ruang publik selama disampaikan berdasarkan fakta dan tidak melanggar norma hukum maupun etika.
“Kritik-kritik itu boleh asal berdasarkan fakta. Jangan menghina orang, jangan pencemaran nama baik, jangan menghasut. Main fakta saja.” ujar Dr. Drs. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan media sosial memberikan ruang besar bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan. Namun, kebebasan tersebut tetap perlu berjalan bersama tanggung jawab komunikasi.
Terkait sejarah dan kebangsaan, Indiwan menekankan pentingnya peran masyarakat akademik dalam menjaga memori kolektif melalui tulisan.
“Kalau bukan kita yang menulis, maka ada pihak-pihak sebagai pemenang akan menghilangkan nilai-nilai sejarah yang seharusnya ada di Indonesia.” ujar Dr. Drs. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si.
Ia juga mengajak masyarakat akademik untuk terus menghasilkan karya yang merekam berbagai peristiwa sejarah dan pemikiran agar tidak hilang dari ingatan bersama.
“Mari kita menulis sejarah kita supaya tidak ada yang dihapus dari memori kebangsaan kita.” ujar Dr. Drs. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si.
Selain itu, Indiwan menyoroti perubahan industri media akibat perkembangan teknologi digital serta hubungannya dengan kualitas informasi publik.
Ia mengatakan bahwa media memiliki peran penting dalam menyediakan informasi publik dan menjaga keberlangsungan ruang demokrasi.
“Dulu orang bisa berlangganan Kompas atau Jawa Pos jutaan eksemplar. Sekarang untuk berlangganan media online saja orang sangat cemas. Padahal tanpa media, negara kita akan hancur, karena kepentingan media adalah kepentingan bangsa.” ujar Dr. Drs. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si.
Sementara itu, Dr. Dra. Niknik Mediyawati, S.Pd., M.Hum., mengangkat pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi perubahan informasi di era digital.
Niknik menjelaskan bahwa kemampuan mempertanyakan suatu realitas menjadi bagian penting dalam membangun manusia yang memiliki pemikiran kritis.
“Kalau orang sudah hilang sisi kritisnya, itu sebenarnya sudah hilang satu dimensinya, sehingga dia jadi ‘one-dimensional man’ – manusia satu dimensi yang cuma nurut dan patuh.” ujar Dr. Dra. Niknik Mediyawati, S.Pd., M.Hum.
Niknik juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga integritas intelektual, melalui kebiasaan bertanya dan melakukan analisis terhadap berbagai fenomena yang terjadi.
“Selalu berpikir mempertanyakan ada apa di balik sebuah realitas. Jangan pernah cepat berpuas diri.” ujar Dr. Dra. Niknik Mediyawati, S.Pd., M.Hum.
Melalui kegiatan From the Manuscript to the Bookshelf, UMN menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya riset, penulisan, dan publikasi akademik. Peluncuran enam buku tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan hasil pemikiran akademisi sebagai pengetahuan yang dapat memberi kontribusi bagi pendidikan dan masyarakat luas.











